• in

    Pendopo Selesai Dibangun, Mahasiswa Kecewa Dengan Aturan Penggunaannya

    Lentera Uniska, Banjarmasin – Universitas Islam Kalimantan (Uniska) Muhammad Arsyad Al – Banjari (MAB) memiliki tampilan baru dengan dibangunnya sebuah pendopo tepat di depan gedung D.

    Mahasiswa awalnya ramai menghampiri pendopo yang baru dibangun ini. Setelah beberapa hari kemudian, mahasiswa dibuat bingung dengan adanya tulisan “Dilarang naik ke pendopo kecuali ada izin tertulis”.

    Anggota Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pramuka Wahyu Pebrian Noor, merasa sedikit kecewa dengan adanya aturan tersebut, karena menurutnya pendopo dibuat untuk aktivitas mahasiswa.

    “Kalau mahasiswa disuruh izin itu kemana mereka pasti bingung, yang pasti dari pada minta izin mending ketempat lain. Sedikit kecewa saja karna khususnya kan untuk mahasiswa,” tuturnya, Sabtu (10/11).

    Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Yulia Anisa, juga menyayangkan adanya larangan tersebut, yang menjadikan pendopo kurang efektif untuk digunakan mahasiswa.

    “Menurut saya dibuatnya pendopo itu bagus tapi dengan adanya tulisan tersebut buat apa dibuat pendopo kalau dilarang duduk,” ungkapnya.

    Menanggapi keluhan mahasiswa tentang larangan tersebut, Ketua Yayasan Uniska Gusti Irhamni mengaku tidak mengetahui adanya tulisan larangan itu, dan nantinya akan dicari tahu siapa penulisnya.

    Ia juga menjelaskan dibangunnya pendopo tersebut untuk memfasilitasi kegiatan mahasiswa yang bermanfaat, bukan untuk dijadikan tempat bersantai.

    “Untuk surat izin sendiri tidak perlu jika buat berdiskusi, belajar bersama. Bapak tidak mau dijadikan tempat untuk bermain, tidur – tiduran serta makan. Supaya bersih dan nyaman,” jelasnya. (Cng/Wgk)

  • in

    222 Tim Rebutkan Gelar Juara di BPMUB Futsal Cup 2018

    Lentera Uniska, Banjarbaru – Badan Persatuan Mahasiswa Uniska Banjarbaru (BPMUB) Universitas Islam Kalimantan (Uniska) Muhammad Arsyad Al – Banjari (MAB), menyelenggarakan pertandingan Futsal CUP dengan mengusung tema “Show Your Skill and be a Winner”. Bertempat di Lapangan Futsal Fernando 2, Banjarbaru.

    Sebanyak 222 tim mengikuti Futsal Cup yang terbagi dalam 7 kategori, yakni SD, SMP, SMA, Mahasiswa, Umum, Putri serta Instansi. Kegiatan ini berlangsung sejak 10 November 2018 s/d selesai.

    Ketua Pelaksana Alfat Duta Iswantara menjelaskan, dilaksanakannya kegiatan tersebut agar dapat menyatukan mahasiswa Uniska dengan Universitas lain maupun para pelajar.

    “Tujuannya ingin menyatukan Uniska dengan Universitas lain dan juga ingin menyatukan seluruh pelajar dari SD, SMP, dan SMA,” jelas Duta saat ditemui tim Lentera.

    Ketua Umum BPMUB Muhammad Iqbal Dhiyaulhaq berpesan agar peserta dapat menjaga sportifitas. Ia juga berharap kegiatan ini mampu menghasilkan bibit futsal muda di Kalimantan.

    “Pesan saya peserta bisa menjaga sportifitas, harapannya ini menjadi ajang untuk mencari bibit dari anak muda Kalimantan, dan acara seperti ini bisa terus dilaksanakan,” ujarnya.

    Ahmad Arianda Alfair, salah satu peserta yang mengikuti Futsal CUP ini berharap pemerintah dapat membantu anak muda untuk bisa berkembang dan mewakili Indonesia ke ajang Internasional.

    “Harapan saya agar pemerintah memperhatikan dan membantu anak-anak muda di Kalimantan ini untuk bisa berkembang, agar bisa mewakili Indonesia di ajang Internasional,” harapnya. (Lck/Tkr)

  • in

    Peringati Hari Pahlawan, STB Uniska Gelar Pensi

    Lentera Uniska, Banjarmasin – Sanggar Titian Barantai (STB) Universitas Islam Kalimantan (Uniska) Muhammad Arsyad Al – Banjari (MAB), mengadakan pementasan seni untuk memperingati Hari Pahlawan, yang dilaksanakan di lapangan Kampus Uniska Banjarmasin, pada Jum’at malam (9/10).

    Pementasan seni yang disaksikan oleh puluhan mahasiswa dan masyarakat umum ini, menceritakan sosok Ratu Zaleha sebagai salah satu tokoh perjuangan di Kalimantan Selatan yang melakukan perlawanan pada pasukan Walanda (Belanda).

    Penulis naskah Fauzan Nur Bastari mengungkapkan, mengapa Ia mengangkat kisah Ratu Zaleha karena sosok ini belum pernah diangkat sebelumnya.

    “Kenapa mengangkat kisah Ratu Zaleha, sebenarnya seperti biasa kami mengangkat cerita pahlawan banua dan yang belum diangkat yaitu cerita dari Ratu Zaleha ini,” jelasnya melalui pesan singkat.

    Pimpinan Produksi Azmi Arif menuturkan, sempitnya waktu untuk latihan menjadi kendala tersendiri saat persiapan.

    “Kendala kita, mepetnya waktu untuk latihan, karena padatnya jadwal agenda dan kegiatan lain,” ucapnya pada tim Lentera setelah selesai acara.

    Ia juga mengungkapkan pementasan seni seperti ini sudah jadi program kerja tahunan STB, dan berharap dapat dilaksanakan secara konsisten di tahun berikutnya dalam rangka peringatan Hari Pahlawan.

    Teguh salah satu penonton, memberikan tanggapan positif tentang adanya pementasan ini.

    “Kesannya bagus lah, terus merancang kreativitas mahasiswa dan keseluruhan juga bagus,” tuturnya.(Khr/lgh)

  • in

    Diskusi Ilmiah Mahasiswa Pascasarjana Uniska, Unair dan UB

    Lentera Uniska – Diskusi ilmiah sekaligus Field Research, dilakukan mahasiswa Pascasarjana Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Islam Kalimantan (Uniska) Muhammad Arsyad Al – Banjari (MAB), dengan mahasiswa Pascasarjana dari dua perguruan tinggi ternama di Jawa Timur, Universitas Airlangga (Unair) Surabaya dan Universitas Brawijaya (UB) Malang.

    Setidaknya ada sekitar 70 mahasiswa Pascasarjana Ilmu Komunikasi Uniska berpartisipasi dalam kegiatan yang dilaksanakan selama dua hari ini, 7 – 8 November 2018.

    Dihari pertama, berlangsung diskusi ilmiah antara mahasiswa Ilmu Komunikasi Uniska dengan Unair. Masing – masing perwakilan mahasiswa menyampaikan hasil karya ilmiahnya yang kemudian menjadi bahan diskusi.

    Kepala Departemen Komunikasi FISIP Unair, Yayan Sakti Suryandaru yang secara langsung menyambut kedatangan rombongan mahasiswa Pascasarjana Ilmu Komunikasi Uniska mengungkapkan rasa bangganya, karena dipilih sebagai partner diskusi ilmiah ini.

    “Semoga dengan silaturahmi ini, ke depannya terjalin kerjasama yang baik antar Unair dan Uniska,” ungkapnya.

    Dihari kedua, diskusi ilmiah dilanjutkan mahasiswa Pascasarjana Ilmu Komunikasi Uniska dan UB di gedung Pascasarjana setempat.
    Kedatangan rombongan juga mendapat sambutan hangat dari Ketua Jurusan Pascasarjana Ilmu Komunikasi UB, dan Ketua Program Studi Rachmat Kriyantono. Pada diskusi kedua ini mengangkat tema “Era Digital dan Tantangan Dunia Kerja”. Selain itu, dalam kesempatan ini para civitas juga mendapat kuliah tamu oleh Eiske Van de Filert dari University of Queensland Australia.

    Ketua Program Studi Magister Ilmu Komunikasi Uniska Marhaeni Fajar Kurniawati menjelaskan, kegiatan Field Research ke kampus Pascasarjana Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga dan Universitas Brawijaya ini yang pertama kali dilakukan, agar mahasiswa bisa melihat kegiatan belajar mengajar di kampus yang masuk 10 perguruan tinggi terbaik di Indonesia. Selain itu, juga agar mahasiswa dapat mengikuti perkembangan Ilmu Komunikasi yang dinamis.

    “Semoga setelah kegiatan Field Research ini, mahasiswa Pascasarjana Ilmu Komunikasi kita dapat mengerjakan tugas akhirnya dengan bahan penelitian yang lebih mendalam lagi,” harapnya.

    Sementara itu, Wakil Rektor I Uniska Jarkawi yang ikut mendampingi Field Research ini saat di wawancarai mengatakan, kegiatan ini sangat bermanfaat dan positif bagi perkembangan mahasiswa. Ia berharap kegiatan seperti ini bisa dicontoh oleh jurusan lain di Uniska.

    Dalam kesempatan ini turut mendampingi kegiatan, Wakil Direktur Pascasarjana Uniska Khuzaini. (yud)

  • in

    Dirasa Kurang Efektif, Pemilihan Duta Kampus Tak Lagi Dijalankan

    Lentera Uniska, Banjarmasin – Pada umumnya Universitas di Indonesia mempunyai Duta Kampus yang berperan penting dalam proses promosi kampus. Namun beberapa tahun terakhir, Universitas Islam Kalimantan (Uniska) Muhammad Arsyad Al – Banjari (MAB) tidak lagi mengadakan pemilihan Duta Kampus.

    Penanggung jawab Duta Kampus Mardiana melalui pesan singkat menjelaskan, beliau dan panitia sudah pernah membahas kegiatan tersebut, namun hal ini juga harus ada sinergisitas dan instruksi dari pihak Universitas.

    ”Kami sebagai penanggung jawab dan panitia sudah pernah kumpul untuk membahas dan menindaklanjuti kegiatan tersebut, tetapi hal ini juga harus ada sinergisitas antara Universitas dan yayasan Uniska,” jelasnya.

    Mardiana juga mengatakan jika memang pihak yayasan mengintruksikan untuk kembali diadakan, maka pihak penyelenggara pemilihan Duta Kampus akan segera mengadakannya.

    Sementara itu, Wakil Rektor III Uniska Idzani Muttaqin mengungkapkan, tidak diadakannya pemilihan dikarenakan fungsi dari Duta Kampus Uniska pada tahun sebelumnya tidak berjalan sebagaimana mestinya dan lebih mengarah pada hiburan.

    “Kalau ada kegiatan di lingkungan kampus maka Duta Kampus itu kita turunkan. Tapi belakangan para Duta Kampus ini fungsinya lebih mengarah kehiburan maka untuk sekarang tidak diadakan pemilihan duta kampus itu,’’ ungkap beliau kepada tim Lentera, Rabu (7/11).

    Jika fungsi dari Duta Kampus tersebut dikembalikan lagi seperti yang awal maka ada harapan untuk diadakannya kembali pemilihan Duta Kampus.

    Alasan lain juga dituturkan oleh Rektor Uniska Abdul Malik, tidak diadakan pemilihan Duta Kampus karenakan Uniska ingin lebih memfokuskan mahasiswa nya ke bidang akademik.

    “Kita ini sekarang memfokuskan kegiatan yang bersifat akademik, selama ini kegiatan non akademik yang lebih banyak,” tuturnya. (kki/glr)

  • in

    Hadirnya Warna Baru Seragam FISIP Timbulkan Pertanyaan

    LPM Lentera, Banjarmasin – Universitas Islam Kalimantan (Uniska) Muhammad Arsyad Al – Banjari (MAB) mempunyai baju yang berbeda pada setiap Fakultasnya. Salah satunya di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP).

    Namun kali ini ada perbedaan warna yang mencolok pada baju FISIP angkatan 2018 dengan tahun – tahun sebelumnya.

    Penanggung jawab baju FISIP Laila Qadariah menjelaskan, perbedaan warna pada baju dikarenakan kurangnya stok kain terdahulu.

    “Karena stock kain kurang, sedangkan untuk angkatan tahun ini sudah lebih dari 200 mahasiswa, jadi tidak cukup untuk stock kain yang terdahulu,” jelas Laila saat ditemui di ruang tunggu dosen, Rabu siang (7/11).

    Perbedaan harga dengan tahun sebelumnya juga menjadi pertanyaan para mahasiswa, Laila Qadariah mengungkapkan hal ini disebabkan naiknya biaya produksi.

    “Jika ada mahasiswa yang keberatan ataupun ingin komplain masalah harga, silahkan temui ibu dan akan ibu jabarkan rincian biaya operasional,” ucapnya.

    Dipilihnya jingga sebagai warna dasar baju tersebut karena lebih identik dengan FISIP, dan tahun ini dipilih warna yang lebih cerah karena ditahun sebelumnya mahasiswa komplain dengan warna kain yang terlalu kalem.

    Mahasiswa FISIP Ilmu Komunikasi semester 1 Feri Rezeki Kencana mengungkapkan, perbedaan warna pada seragam ini merupakan hal biasa, dan harga standar saja namun ada beberapa yang merasa harga terlalu mahal.

    “Perbedaan itu biasa, karena Indonesia beragam. Tidak ada keluhan, biasa saja harganya sangat standar tapi ada yang merasa kemahalan,” tuturnya. (lgh/kmi)