in

Dollar Tembus Rp.15.000,- Pemerintah Mainkan Harga BBM Sebagai Solusi!

LPM Lentera, Banjarmasin – Tercatat hingga hari ini nilai tukar rupiah terhadap dollar tembus Rp. 15.200,- pada Senin, 22 Oktober 2018. Menanggapi soal kenaikan rupiah tersebut, Direktur Program Pascasarjana Universitas Islam Kalimantan (Uniska) Muhammad Arsyad Al Banjari (MAB) Banjarmasin, Mohammad Zainul menjelaskan kenaikan nilai tukar rupiah terhadap dollar dipicu oleh beberapa faktor, diantaranya disebabkan oleh impor barang yang lebih banyak dibanding ekspor.

“Ada tiga peyebab nilai tukar dollar menguat, seperti penarikan modal para investor asing, jumlah impor yang melebihi ekspor dan meningkatnya hutang luar negeri,” Kata Mohammad Zainul saat ditemui diruang kerjanya, Senin (22/10).

Dia juga menjelaskan, penarikan modal secara besar – besaran akibat perang dagang antara Amerika dan Tiongkok membuat Pemerintah Amerika menaikkan suku bunga defectnya.
Hal inilah pemicu dollar naik, karena dollar ditarik kembali ke Amerika sehingga diberbagai Negara kekurangan dollar.

Selain itu, masih besarnya ketergantungan masyarakat Indoneisa terhadap barang luar negeri dan meningkatnya hutang negara juga menjadi salah satu melemahnya rupiah.

Menurut Zainul, salah satu cara agar dapat menghambat menguatnya nilai tukar dollar terhadap rupiah adalah dengan menggenjot ekspor dan Pemerintah harus mampu meyakinkan para investor, bahwa ekonomi Indonesia sangat kuat menghadapai gejolak ekonomi dunia.

“Ya salah satunya, Pemerintah mesti meyakinkan para Investor bahawa Indonesia memiliki ekonomi yang kuat,” Sambung Direktur Program Pascasarjana ini.

Zainul juga menegaskan, jika pertumbuhan perekonomian Indonesia saat ini berada di peringkat enam dunia.

Posisi cadangan devisa Indonesia terus menurun akibat upaya stabilisasi Bank Indonesia (BI) terhadap nilai rupiah yang tak henti melemah di hadapan dollar Amerika Serikat (AS). Per September 2018, bank sentral mencatat posisi cadangan devisa mencapai 114,8 miliar dollar, turun 3,1 miliar dollar dari posisi Agustus yang mencapai 117,9 miliar dollar.

Cadangan devisa digunakan oleh BI untuk menahan liarnya pelemahan nilai tukar rupiah yang akhirnya mencapai titik terendah sejak krisis moneter 1998, saat ini rupiah telah menembus Rp. 15.000,- per dollar AS.

Dikutip dari detikFinance, Mantan Menteri Keuangan Chatib Basri menjelaskan, penguatan dollar yang bersamaan dengan pelebaran defisit neraca transaksi berjalan (current account deficit/CAD) memaksa BI untuk melakukan intervensi. Hal ini dilakukan untuk membuat rupiah tidak makin jatuh dalam menghadapi tekanan saat ini.

Ia menyebut kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) sebagai obat ampuh untuk menahan pelemahan rupiah. Dia menerangkan, kebijakan tersebut bisa langsung menekan defisit transaksi berjalan yang disebabkan oleh tingginya impor minyak dan gas (migas).

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), impor migas pada Mei 2018 lalu merupakan impor tertinggi sejak 2015. Impor tinggi ini menjadi penyumbang besar pada defisitnya neraca perdagangan Indonesia di periode tersebut dan pada periode Mei 2018 impor migas tercatat sebesar 2,81 miliar dollar atau setara Rp40,42 triliun.(lck/apn)

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

“Good Public Speaker Bersama Dian Hasrie di Himakom Room”

Plafond Ambruk, Saat Perkuliahan Berlangsung